LUWU, A24MEDIA – Duka mendalam menyelimuti masyarakat Desa Buntu Barana, Kecamatan Suli, Kabupaten Luwu, Sulawesi Selatan. Salah satu tokoh tertua sekaligus figur yang dihormati di desa tersebut, Mangaweang, dikabarkan meninggal dunia pada hari ini setelah menjalani perjalanan hidup yang melintasi berbagai era penting dalam sejarah Indonesia.
Berdasarkan data administrasi kependudukan yang tercantum dalam Kartu Keluarga, Mangaweang lahir pada 31 Desember 1920. Dengan usia yang telah melewati satu abad, ia menjadi saksi hidup berbagai peristiwa bersejarah, mulai dari masa penjajahan, perjuangan mempertahankan kemerdekaan, pergolakan politik nasional, hingga perkembangan Indonesia di zaman modern.
Semasa hidupnya, Mangaweang dikenal luas sebagai sosok yang sederhana, bijaksana, dan dekat dengan masyarakat. Kepercayaan warga mengantarkannya memimpin Desa Buntu Barana dalam dua periode berbeda, yakni pada tahun 1966–1983 dan kembali menjabat pada 1993–2001. Kepemimpinannya yang mengedepankan musyawarah serta nilai-nilai kekeluargaan meninggalkan kesan mendalam bagi masyarakat setempat.
Perjalanan hidup Mangaweang tidak lepas dari dinamika sejarah Sulawesi Selatan. Pada masa mudanya, ia pernah bergabung dengan pasukan DI/TII yang dipimpin oleh Kahar Muzakkar dan mengalami secara langsung berbagai peristiwa yang terjadi pada masa tersebut.
Di penghujung usianya, Mangaweang sering membagikan petuah kehidupan kepada generasi muda. Ia memandang kehidupan dan kematian dengan penuh ketenangan serta keikhlasan. Dalam sebuah kesempatan wawancara, ia pernah mengungkapkan bahwa dirinya selalu siap menghadapi akhir kehidupan kapan pun waktu itu tiba.
“Saya tidak tahu kenapa Tuhan kasih saya umur panjang. Sejak dulu saya sudah selalu siap mati. Siap,” ujarnya.
Kepergian Mangaweang meninggalkan duka bagi keluarga besar yang terdiri dari anak, cucu, cicit, hingga keturunan generasi berikutnya. Selama lebih dari seratus tahun hidupnya, ia telah menyaksikan perubahan zaman, lahirnya generasi baru, serta berbagai peristiwa yang membentuk perjalanan bangsa.
Bagi masyarakat Desa Buntu Barana dan Kabupaten Luwu, wafatnya Mangaweang bukan sekadar kehilangan seorang tokoh sepuh. Kepergiannya juga menandai berakhirnya satu kisah hidup yang menjadi bagian dari catatan sejarah panjang daerah dan bangsa Indonesia.














Komentar