LUWU, A24Media — Ancaman kekeringan yang melanda sejumlah wilayah pertanian di Kabupaten Luwu mendorong pemerintah daerah mengambil langkah darurat untuk menjaga keberlangsungan tanaman padi. Di tengah terus menurunnya debit air irigasi, Komisi Irigasi Kabupaten Luwu resmi memberlakukan sistem pengaliran air secara bergiliran antarwilayah.
Kebijakan tersebut dituangkan melalui Surat Edaran Nomor 03/JWP/SKI/VIII/2026 tentang jadwal pengaliran air irigasi antar zona atau wilayah secara bergiliran.

Langkah ini diambil menyusul semakin terbatasnya ketersediaan air pada jaringan irigasi akibat musim kemarau berkepanjangan. Berdasarkan data per 17 Agustus 2026, debit air di bendung hanya berada pada kisaran 3–4 meter kubik per detik, jauh di bawah kebutuhan normal untuk memenuhi kebutuhan pengairan areal persawahan.
Ketua Komisi Irigasi Kabupaten Luwu, Dr. Muhammad Arsal Arsyad, S.STP., M.Si., mengatakan sistem giliran air merupakan langkah darurat agar wilayah layanan irigasi tetap memperoleh pasokan air secara adil di tengah kondisi keterbatasan.
“Musim kemarau tahun ini menyebabkan debit air menurun cukup signifikan. Karena itu kami bersama seluruh pihak terkait menyepakati sistem penggiliran agar distribusi air dapat berjalan lebih adil dan merata bagi petani di seluruh zona layanan,” kata Arsal Arsyad, Kamis (20/8/2026).
Menurut Arsal, pengaturan distribusi air tersebut menjadi salah satu upaya untuk menekan risiko puso atau gagal panen yang saat ini mengancam ribuan hektare lahan pertanian di Kabupaten Luwu.
Ia pun meminta para petani menaati jadwal pengaliran yang telah ditetapkan. Pasalnya, ketersediaan air saat ini sangat terbatas sehingga penggunaannya harus dilakukan secara bijaksana.
“Jangan mengambil air di luar jadwal karena akan berdampak pada petani lain yang juga membutuhkan pasokan untuk mempertahankan tanamannya,” tegasnya.
Arsal juga mengajak petugas pengairan, kelompok tani, dan pemerintah desa ikut melakukan pengawasan di lapangan. Menurutnya, kepatuhan seluruh pihak menjadi kunci agar sistem distribusi air dapat berjalan sesuai kesepakatan.
“Kita harus menjaga kebersamaan dan solidaritas. Jika jadwal ini dipatuhi bersama, maka peluang menyelamatkan areal pertanian dari ancaman kekeringan akan jauh lebih besar,” tambahnya.
Empat Zona Dapat Giliran Air
Berdasarkan surat edaran Komisi Irigasi Kabupaten Luwu, pengaliran air dibagi menjadi empat zona layanan yang mendapatkan pasokan secara bergantian.
Zona 1 mendapatkan aliran mulai Senin pukul 07.00 hingga Selasa pukul 07.00. Selanjutnya, Zona 2 mendapatkan giliran pada Selasa hingga Kamis.
Kemudian Zona 3 memperoleh pasokan pada Kamis hingga Sabtu, sedangkan Zona 4 mendapatkan giliran mulai Sabtu hingga Senin.
Siklus tersebut akan terus diberlakukan selama kondisi debit air masih terbatas.
Sistem penggiliran ini diharapkan dapat menjaga keseimbangan distribusi air sekaligus mencegah terjadinya perebutan air antarwilayah yang dapat merugikan petani di zona lainnya.
3.025 Hektare Sawah Terdampak Kekeringan
Kebijakan penggiliran air diberlakukan di tengah semakin seriusnya dampak musim kemarau terhadap sektor pertanian Luwu.
Data Dinas Pertanian Kabupaten Luwu sebelumnya mencatat sekitar 3.025,73 hektare sawah terdampak kekeringan dan terancam mengalami gagal panen akibat musim kemarau yang berkepanjangan.
Wilayah yang terdampak antara lain Belopa, Belopa Utara, Kamanre, Suli, Suli Barat, Bua, Ponrang, Ponrang Selatan hingga Larompong.
Kondisi tersebut membuat sebagian petani kesulitan memperoleh air untuk mempertahankan tanaman padi, terutama tanaman yang tengah memasuki fase pertumbuhan hingga pengisian bulir.
Pemerintah Kabupaten Luwu terus melakukan sejumlah langkah penanganan untuk mengurangi dampak kekeringan. Upaya tersebut antara lain melalui penyaluran mesin pompa air, optimalisasi sumber air alternatif, serta pengaturan distribusi air irigasi melalui Komisi Irigasi Kabupaten Luwu.
Dengan penerapan sistem penggiliran tersebut, pemerintah berharap ketersediaan air yang tersisa dapat dimanfaatkan seoptimal mungkin sehingga tanaman padi yang masih dapat diselamatkan tidak sampai mengalami puso.
Bagi petani, kepatuhan terhadap jadwal menjadi bagian penting dari upaya bersama menjaga keberlangsungan sektor pertanian di tengah tekanan musim kemarau.
Penulis : Chaeruddin
Editor : Redaksi
Sumber Berita: Ketua Komisi Irigasi Kabupaten Luwu, Dr. Muhammad Arsal Arsyad, S.STP., M.Si.














Komentar