JAKARTA, A24Media — Serikat Media Siber Indonesia (SMSI) mengambil langkah strategis dengan mengukuhkan Pokja Newsroom Jaga Desa sebagai bagian dari komitmen organisasi pers untuk ikut memperkuat peran desa sebagai garda terdepan dalam menjaga keutuhan Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI).
Pengukuhan berlangsung di Hall Dewan Pers, Kebon Sirih, Jakarta, dan dirangkaikan dengan dialog nasional. Program tersebut untuk tahap awal melibatkan lima provinsi, yakni Jawa Barat, Jawa Tengah, Jawa Timur, Bengkulu, dan Sumatera Selatan.
Ketua Umum SMSI Pusat, Drs. Firdaus, M.Si., mengatakan keberadaan Pokja Newsroom Jaga Desa merupakan bentuk kepedulian SMSI terhadap pembangunan dan kehidupan masyarakat di tingkat desa.
Menurut Firdaus, desa semestinya ditempatkan sebagai bagian penting dalam pembangunan nasional karena memiliki posisi strategis sebagai basis masyarakat sekaligus wajah negara di tingkat paling dekat dengan rakyat.
“Saya setuju desa menjadi garda depan dan etalase negara, tidak menjadi entitas yang dinomorduakan,” ujar Firdaus.
Ia menjelaskan, lima provinsi yang telah terlibat dalam pengukuhan tersebut menjadi pilot project program SMSI. Selanjutnya, konsolidasi Pokja Newsroom Jaga Desa direncanakan diperluas secara serentak ke seluruh provinsi.
Hasyim: Pers Jangan Sampaikan Informasi yang Menyesatkan
Pengukuhan Pokja Newsroom Jaga Desa berlangsung di tengah situasi informasi publik yang dinilai penuh dinamika, termasuk beredarnya berbagai informasi mengenai eskalasi aksi demonstrasi yang berpotensi menimbulkan distorsi terhadap situasi keamanan dan stabilitas.
Hadir sebagai keynote speaker dalam dialog nasional, Hasyim S. Djoyohadikusumo memberikan apresiasi terhadap langkah SMSI tersebut.

Hasyim menilai kegiatan itu penting karena pers memiliki peran dalam memastikan masyarakat mendapatkan informasi berdasarkan fakta dan konteks yang utuh.
“Saya percaya SMSI, saya mengapresiasi kegiatan ini karena itu saya datang,” kata Hasyim.
Ia juga menyampaikan bahwa kehadirannya sekaligus menjadi bagian dari upaya memberikan gambaran mengenai kondisi Jakarta yang disebutnya aman dan kondusif.
“Ini bukan hanya konfirmasi, tetapi testemoni nyata di sini (Jakarta) aman dan kondusif. Selamat SMSI, ini kegiatan positif, dan sangat bagus,” ujarnya.
Hasyim mengingatkan insan pers agar menjalankan fungsi jurnalistik dengan mengedepankan akurasi serta tidak menyampaikan informasi yang dapat menyesatkan masyarakat.
“Jangan menjadi pers yang menyesatkan. Sampaikan informasi secara utuh dengan data dan fakta,” tegasnya.
Menurut Hasyim, informasi yang dilepaskan dari konteks dapat menimbulkan persepsi yang keliru, bahkan berpotensi mendistorsi kebijakan pemerintah yang sedang menjadi prioritas.
Dialog dengan BEM UI, UGM dan ITB
Untuk mendapatkan perspektif yang lebih luas, Hasyim mengungkapkan rencana dialog dengan kalangan mahasiswa dan akademisi dari sejumlah perguruan tinggi.
Ia menyebut agenda dialog akan melibatkan BEM UI, UGM, dan ITB. Masukan yang diperoleh dari ruang dialog tersebut nantinya akan menjadi bahan evaluasi dan rekomendasi kepada pemerintah.
“Sebagai penasehat Presiden, masukan-masukan dari kampus akan kami sampaikan dan rekomendasikan kepada Presiden untuk pembenahan,” kata Hasyim.
Langkah tersebut dinilai penting untuk membuka ruang komunikasi antara pemerintah dan kelompok masyarakat, khususnya kalangan kampus, sehingga kebijakan yang diambil dapat memperoleh masukan dan koreksi dari berbagai perspektif.
Soroti Kondisi Gedung Dewan Pers
Selain membahas peran pers dan penguatan informasi publik, forum tersebut juga menyoroti kondisi Gedung Dewan Pers yang dinilai sudah membutuhkan peningkatan.
Ketua Umum SMSI Firdaus menyampaikan bahwa Gedung Dewan Pers memiliki posisi penting sebagai salah satu pusat aktivitas pers nasional. Namun, menurutnya, kondisi fasilitas yang ada saat ini belum sepenuhnya mampu mengakomodasi seluruh konstituen pers.
“Di tempat ini Dewan Pers bermarkas, segala kegiatan Dewan Pers digerakkan dari gedung ini, tetapi konstituen belum bisa diakomodir. Jadi mereka terpisah-pisah sesuai dengan kondisi masing-masing,” jelas Firdaus.
Menanggapi hal tersebut, Hasyim memberikan respons positif dan menyatakan akan menindaklanjutinya dengan Kementerian Komunikasi dan Digital (Komdigi).
“Sayang saya baru dapat masukan ini sekarang, kemarin baru saja bertemu dan dialog panjang lebar dengan Menkomdigi, Meutya Hafid,” ujar Hasyim.
Pernyataan tersebut mendapat sambutan dari peserta yang hadir dalam kegiatan.
Dialog Nasional Bahas Pers dan Tantangan Bangsa
Pengukuhan Pokja Newsroom Jaga Desa dihadiri sekitar seratus peserta dan undangan dari berbagai unsur.
Setelah prosesi pengukuhan, kegiatan dilanjutkan dengan dialog nasional yang menghadirkan sejumlah narasumber, di antaranya Prof. Dr. Achmad Riyad U.B., Ph.D., Dewan Penasehat SMSI Jawa Timur, serta pakar di bidang ekonomi dan perbankan.
Dialog berlangsung interaktif dengan sejumlah tanggapan dan pandangan kritis dari peserta. Diskusi dipandu Prof. Dr. Albertus Wahyu Rudhanto, M.C., guru besar dari PTIK.
Melalui pembentukan Pokja Newsroom Jaga Desa, SMSI menempatkan media bukan hanya sebagai penyampai informasi, tetapi juga sebagai bagian dari ekosistem yang ikut mengawal pembangunan desa, memperkuat literasi publik, serta menjaga agar informasi yang diterima masyarakat tetap berbasis data dan fakta.
Program tersebut diharapkan menjadi langkah awal untuk memperkuat kolaborasi antara insan pers, pemerintah, masyarakat desa, dan kalangan akademisi dalam menjaga stabilitas serta mendorong pembangunan nasional dari tingkat desa.














Komentar