LUWU, A24Media — Kinerja ekonomi Kabupaten Luwu, Sulawesi Selatan, menunjukkan tren positif sepanjang 2025. Pemerintah daerah mencatat pertumbuhan mencapai 7,43 persen, meningkat tajam dibandingkan capaian tahun sebelumnya sebesar 4,36 persen. Bupati Luwu, H Patahudding, menyampaikan capaian tersebut saat menjadi narasumber dalam program Jurnal Nusantara di KompasTV, Kamis (09/04/2026).
Menurutnya, sektor pertanian dan perkebunan masih menjadi penggerak utama ekonomi daerah. Peningkatan produksi padi sawah dinilai berperan besar, ditopang oleh perbaikan infrastruktur irigasi serta peningkatan indeks pertanaman.
“IP kita naik dari 1,8 menjadi 2,2, dan ke depan ditargetkan bisa mencapai 2,5 pada 2027,” ungkapnya.
Ia menjelaskan, strategi peningkatan produksi juga dilakukan melalui program kemandirian benih. Pemerintah menyiapkan demplot benih bersertifikat dengan varietas yang disesuaikan dengan kondisi lahan dan ketersediaan air di masing-masing wilayah. Selain itu, pengembangan sistem irigasi pompa (irpon) menjadi solusi atas keterbatasan jaringan irigasi, sehingga lahan-lahan yang sebelumnya tidak produktif kini mulai dimanfaatkan.
Tak hanya itu, Pemkab Luwu turut mendorong keterlibatan generasi muda melalui pembentukan Brigade Pangan Pertanian Milenial. Saat ini, lebih dari 100 brigade telah terbentuk dan mengelola lahan antara 150 hingga 200 hektare per kelompok.
“Mulai dari pengolahan lahan hingga panen dikelola oleh brigade milenial dengan dukungan teknologi modern,” jelasnya.
Para anggota brigade difasilitasi alat dan mesin pertanian (alsintan), termasuk penggunaan drone untuk menunjang efisiensi kerja di lapangan. Di sektor perkebunan, kakao menjadi fokus pengembangan sebagai komoditas unggulan daerah. Pemerintah pusat melalui Kementerian Pertanian memberikan dukungan berupa bantuan bibit untuk pengembangan 8.000 hektare lahan atau setara 8 juta pohon kakao.
“Ini menjawab kebutuhan petani akan bibit unggul. Kami yakin dalam waktu dua tahun sudah mulai terlihat hasilnya,” kata Patahudding.
Ia juga menyampaikan apresiasi kepada pemerintah pusat atas dukungan tersebut.
“Kami berterima kasih kepada Bapak Presiden atas perhatian yang diberikan kepada petani di Luwu melalui bantuan bibit ini,” ujarnya.
Sepanjang 2025, sekitar 200 ribu bibit kakao telah disalurkan kepada petani. Ke depan, pemerintah menargetkan distribusi mencapai 10 juta bibit atau setara 10.000 hektare.
Selain kuantitas, kualitas kakao juga menjadi perhatian serius. Petani didorong untuk menerapkan proses fermentasi agar mutu dan harga jual kakao meningkat. Untuk menjaga pendapatan petani selama masa tanam, mereka juga dianjurkan menanam jagung sebagai tanaman sela.
Dalam mendukung pengembangan sektor ini secara berkelanjutan, Pemkab Luwu membentuk tim terpadu lintas OPD yang melakukan pendampingan dari hulu hingga hilir, termasuk edukasi pascapanen. Di tengah upaya tersebut, minat investor terhadap kakao Luwu juga mulai meningkat. Pemerintah daerah pun menargetkan pembangunan pabrik pengolahan kakao sebagai langkah hilirisasi.
“Harapannya, kakao Luwu kembali berjaya dan mampu meningkatkan kesejahteraan masyarakat pada 2028,” tutupnya.














Komentar