PALOPO, A24MEDIA – Bupati Luwu, Patahudding, mengangkat kembali nilai-nilai sejarah dan kebudayaan Luwu dalam malam puncak peringatan Hari Jadi Luwu (HJL) ke-758 dan Hari Perlawanan Rakyat Luwu (HPRL) ke-80. Agenda tersebut dirangkaikan dengan jamuan makan malam bersama Forum Silaturahmi Keraton Nusantara (FSKN) yang berlangsung di Istana Kedatuan Luwu, Kota Palopo, Jumat (23/01/2025).
Dalam sambutannya, Patahudding menyampaikan rasa bangga dan terima kasih atas kehadiran para raja dan sultan dari berbagai wilayah di Indonesia. Menurutnya, momentum ini menjadi kehormatan besar bagi masyarakat Tana Luwu sekaligus penegas kuatnya ikatan sejarah dan budaya antar-kerajaan di Nusantara.
Ia menuturkan bahwa masyarakat Luwu memegang teguh nilai adat yang memuliakan tamu sebagai pembawa keberkahan. Oleh karena itu, kehadiran para pemangku adat di Istana Kedatuan Luwu dimaknai sebagai simbol persaudaraan dan kesatuan bangsa yang terjalin sejak masa lampau.
Bupati Luwu juga menekankan bahwa eksistensi Luwu selama lebih dari tujuh abad merupakan bukti ketangguhan nilai-nilai luhur yang diwariskan oleh para leluhur. Salah satu nilai utama tersebut adalah siri’ na pesse, yang menjadi landasan dalam membangun kehidupan sosial yang harmonis dan berkeadilan hingga saat ini.
Selain itu, ia menjelaskan filosofi kepemimpinan Luwu yang tercermin melalui simbol pajung atau payung Kedatuan. Simbol tersebut, kata Patahudding, menggambarkan pemimpin yang bertugas melindungi, mengayomi, serta memberikan rasa aman dan keteduhan bagi seluruh lapisan masyarakat tanpa membedakan status sosial.
Melalui Forum Silaturahmi Keraton Nusantara, Patahudding berharap nilai-nilai kebudayaan dari berbagai kerajaan dan kedatuan di Indonesia dapat terus dijaga dan diwariskan sebagai penguat jati diri bangsa.
Sementara itu, Datu Luwu ke-40, Andi Maradang Mackulau Opu To Bau, menyampaikan Pappasenna Datu Luwu yang berisi amanah leluhur kepada generasi penerus. Amanah tersebut menekankan pentingnya menjaga persatuan, saling mengingatkan, dan menjunjung tinggi martabat dalam kehidupan bermasyarakat.
Ia menggarisbawahi tiga pesan utama, yakni sipakainge sebagai sikap saling menasihati, masseddi siri sebagai bentuk persatuan dalam menjaga harga diri, serta alebbiring sebagai upaya meraih kemuliaan dalam pengabdian.
Acara tersebut dihadiri para raja dan sultan yang tergabung dalam FSKN, perwakilan DPR RI dan DPRD Provinsi Sulawesi Selatan, kepala daerah dan pimpinan DPRD se-Tana Luwu, unsur Forkopimda, pengurus KKLR Sulawesi Selatan, serta tokoh adat dan tokoh masyarakat.














Komentar