LUWU — Warga di sejumlah desa yang berada di jalur akses tambang Kecamatan Bajo dan Bajo Barat menggantungkan hidup pada sektor pertanian. Namun, sejak Bendung Lekupini mengalami kerusakan lebih dari dua tahun lalu, lahan sawah di Desa Marinding tak lagi dapat diolah dan kini menjadi lahan tidur.
Ketua BPD Marinding, Drs. Baso Gata, saat ditemui Harian Palopo Pos, Rabu (29/10/2025), menyampaikan apresiasi atas perhatian Bupati Luwu, H. Patahudding, terhadap pengembangan sektor pertanian dan perkebunan di daerah tersebut. Meski begitu, ia berharap Pemerintah Kabupaten Luwu segera melakukan perbaikan terhadap Bendung Lekupini yang berada di wilayah Bajo Barat.
“Bendung Lekupini merupakan sumber utama air bagi masyarakat karena mengairi ratusan hektare sawah di Desa Marinding, Tumbubara, Kadong-kadong, dan Tallang Bulawang. Setelah bendung rusak akibat banjir bandang, sekitar 200 hektare sawah di beberapa desa tidak bisa ditanami lagi. Kami sangat berharap pemerintah segera memperbaiki bendung ini agar petani bisa kembali menggarap sawahnya,” ujar Baso Gata.
Kepala Dinas PUTR Luwu, Ir. Ikhsan Asaad, ST, MT, CCMS, yang dikonfirmasi secara terpisah membenarkan kondisi tersebut. Ia menyebut, kerusakan Bendung Lekupini berdampak langsung pada tidak terairinya ratusan hektare sawah di wilayah sekitar jalur tambang.
“Tahun ini, Bendung Lekupini akan ditangani oleh Balai Besar Wilayah Sungai Pompengan Jeneberang (BBWSPJ) dengan anggaran sekitar Rp17,5 miliar. Pekerjaan ini dilaksanakan bersamaan dengan perbaikan Bendung Makawa Walmas senilai Rp11,2 miliar,” jelas Ikhsan.
Berdasarkan informasi yang diperoleh Harian Palopo Pos, Bendung Lekupini berfungsi mengairi sekitar 1.000 hektare lahan persawahan. Perbaikan akan meliputi pembenahan bangunan sifon dan sejumlah komponen lain menggunakan dana APBN Tahun Anggaran 2025, dengan pelaksana proyek dari PT Brantas Abipraya.














Komentar